Belum usai hujan di
sore hari ini, datanglah seorang wanita mengetuk pintu rumah ku memberikan
kabar dan membawa sebuah undangan resmi pernikahan.
“Assalamualaikum”
salam wanita itu sambil mengetuk pintu rumah ku
“Waalaikumsalam” jawabku dari dalam rumah yang
sedang sibuk mengutak-atik ponsel baru ku
Saya bergegas untuk
membuka pintu itu “Eh Dinda, ada apa nih tiba-tiba kemari? Tumben-tumbenan”
tanyaku dengan wajah kaget
“Ini mas cuman mau
ngasih undangan nikah” dia senyum sambil menyerahkan undangan tersebut. Senyum
nya yang indah membuat aku terpesona pada paras Dinda yang cantik dengan make
up tipis yang terlihat luntur karena air hujan sore itu.
“Apa?!?!?! Kamu nikah?
Sama siapa?” Tanyaku dengan wajah kaget untuk kedua kalinya
“Aku nikah sama Johan
mas” jawabnya santai
“Johan yang itu……??”
Tanyaku dengan wajah kaget untuk ketiga kalinya
“Iya mas, jangan lupa
datang ya, bawa pacar mu sekalian hehehe” celetuk Dinda dengan nada bercanda
“I… Iya deh. Nanti aku
usahain datang sama pacar orang hehehe” tandasku dengan nada bercanda juga
dengan penuh tanda tanya di otak
“Ya udah mas aku
duluan ya, hujannya tambah deres ini. Dadaaaaa, Assalamualaikum” dia pamit
sambil memasang helm di kepalanya
“Iya waalaikumsalam,
hati-hati ya” ucapku sambil mengantarkan dia keluar pagar rumah ku. Kemudian
dia menaiki motor sambil melambaikan tangan kearah ku, dan kubalas dengan
lambaian tangan ku juga. Lalu aku kembali masuk ke dalam rumah untuk mengutak-atik
ponsel baruku. Sambil berfikir “KOK BISA DIA NIKAH SAMA DIA YA?” mungkin itu yang
namanya jodoh.
*3 tahun sebelumnya*
Kopi malam itu
menemani ku untuk online sebuah sosial media facebook. Aku memang suka bermain
facebook untuk mencari kenalan baru di dunia maya siapa tau bisa berlanjut ke
dunia nyata. Setelah online hampir 2 jam tiba-tiba ada sebuah message di
facebook dari Dinda yang mengatakan “hey”
dan aku jawab “hey juga”, disitulah
awal perkenalan kita dengan obrolan yang berlanjut dalam bahasan yang tidak
penting.
3 bulan berkenalan
akhirnya kita mencoba untuk ketemuan. Ketika melihat Dinda untuk pertama kali aku
sangat kagum karena Dinda memiliki tubuh yang tinggi semampai wajah yang cantik
dan kalem ditambah dengan parfum yang khas sehingga menarik perhatian siapapun
yang melihatnya. Awal pertemuan kita di sebuah cafe yang jaraknya tidak jauh
dari rumah kita berdua. Untuk sebuah awal pertemuan dia sangat terbuka dalam
menceritakan kisah asmara dengan pacar pertamanya yang telah berlangsung selama
5 tahun (kalo motor udah ganti plat nomer tuh), dan sekarang sudah kandas di
tengah jalan.
Selama 7 bulan setelah
ketemuan itu kita jadi sering jalan bareng, ngobrol bareng, bercanda bareng, pokoknya
bisa seru-seruan bareng dengan status kita yang sama-sama jomblo waktu itu.
Sampai pada akhirnya di bulan ke-8 terhitung setelah ketemuan awal kita di
cafe, dia telah memiliki seorang kekasih bernama Johan, lalu dia menghilang
begitu saja tanpa tau dimana keberadaannya.
*Bulan ke-7 setelah
hilangnya kontak dengan Dinda*
*tingtung* bunyi
notifikasi BBM pada ponsel BlackBerry ku namun aku biarkan sampai kira-kira 45
menit karena BB nya sepi notifikasi jadi aku sampai lupa nada notifikasi BBM di
BB ku dan aku kira itu tadi notifikasi pada BB adik ku.
*buka aplikasi BBM*
ternyata dari Dinda dengan omongan yang langsung to the point “Mas aku mau curhat”
“Nanti malem aja ya lewat telpon jangan sekarang” jawabku dengan
sedikit malas dari aplikasi BBM yang telah usang karena jarang pemakaian.
Waktu menunjukan pukul
00.34 ponsel ku berbunyi dan itu adalah telpon dari Dinda, setelah aku angkat
telponnya lalu dia bercerita panjang lebar mengenai pacarnya si Johan yang
ternyata dia memiliki sifat kurang baik, tugas ku hanyalah mendengarkan dan
memberi saran tidak lebih. Lalu Dinda memilih untuk mengakhiri hubungannya
dengan Johan. Mulai saat itu kita bisa bertemu dan jalan-jalan lagi seperti
saat kita jomblo dulu, ya walaupun cuman 2 bulan karena bulan ke-20 terhitung
dari awal perkenalan kita, si Dinda telah balikan lagi dengan pacarnya yang
dulu bernama Johan dan dia menghilang dari ku lagi.
*Bulan ke-25 terhitung
dari awal perkenalan kita*
*ndreet ndreett ndreeet*
notifikasi BBM dalam vibration mode. Kali ini aku langsung read BBM dari Dinda
dengan omongan yang masih sama kayak waktu dulu “Mas aku mau curhat”
“Ketemuan aja ya di cafe yang dulu biar enak ngomongnya” jawab ku di
BBM dengan nada agak sinis, semoga aja dia tau ekspresi ku pas di BBM.
Waktu menunjukkan
pukul 18.53 aku sampai di cafe tempat biasa dan 10 menit kemudian dia datang di
cafe itu dengan wajah yang sendu. Dengan obrolan pembuka kira-kira 15 menit
akhirnya dia mulai bahas di inti permasalahan mengenai pria bernama Johan, ternyata
cerita yang aku dapat dari sudut pandang Dinda, si Johan ini memang benar-benar
keterlaluan, ya walaupun aku gak mengetahui cerita yang benar seperti apa. Tapi
yang pasti disitu Dinda sangat kecewa dengan tingkah Johan mulai dari
pengkhiatan, perselingkuhan, pendustaan, sampai rasa kecewa yang dialami bukan
hanya pada Dinda namun sampai pada keluarga Dinda.
“Saran mu gimana mas?”
Tanya Dinda pada ku dengan penuh harap
“Kalo aku dengar dari
cerita mu, mending putus aja udah. Ini udah kedua kalinya lho” jawabku sambil
meyakinkan Dinda kalo Johan itu gak cocok sama dia
“Iya mas aku putus
kok, aku gak bakal mikirin dia lagi, gak bakal ngurusin dia lagi, pokoknya
hidupku lepas dari dia. Udah!!!.” Jawabnya dengan yakin dan tegas tanpa pikir
panjang
Mendengar pernyataan
itu dari mulut Dinda aku jadi lega *sambil nyeruput coklat panas di meja cafe*.
Jam sudah menunjukkan
pukul 22.19 saatnya kita bergegas untuk pulang ke rumah masing-masing. Entah
kenapa setelah pertemuan itu pun kita hilang kontak lagi sampai waktu yang
cukup lama, padahal setahu ku dia tidak jadian sama siapa-siapa.
*Bulan ke-36 atau
tepat 3 tahun terhitung dari awal pertemuan kita*
Sore itu cuaca sedang
hujan cukup deras, aku hanya berdiam diri di kamar dan bermain dengan ponsel
baru ku. Tiba-tiba Dinda datang dan mengetuk rumah ku membawa kabar gembira
bahwa dia akan menikah dengan pria pilihannya itu.
By Yanuar Kurniawan