Kamis, 12 Maret 2015

Datang Ketika Butuh



Belum usai hujan di sore hari ini, datanglah seorang wanita mengetuk pintu rumah ku memberikan kabar dan membawa sebuah undangan resmi pernikahan.

“Assalamualaikum” salam wanita itu sambil mengetuk pintu rumah ku

 “Waalaikumsalam” jawabku dari dalam rumah yang sedang sibuk mengutak-atik ponsel baru ku

Saya bergegas untuk membuka pintu itu “Eh Dinda, ada apa nih tiba-tiba kemari? Tumben-tumbenan” tanyaku dengan wajah kaget

“Ini mas cuman mau ngasih undangan nikah” dia senyum sambil menyerahkan undangan tersebut. Senyum nya yang indah membuat aku terpesona pada paras Dinda yang cantik dengan make up tipis yang terlihat luntur karena air hujan sore itu.

“Apa?!?!?! Kamu nikah? Sama siapa?” Tanyaku dengan wajah kaget untuk kedua kalinya

“Aku nikah sama Johan mas” jawabnya santai

“Johan yang itu……??” Tanyaku dengan wajah kaget untuk ketiga kalinya

“Iya mas, jangan lupa datang ya, bawa pacar mu sekalian hehehe” celetuk Dinda dengan nada bercanda

“I… Iya deh. Nanti aku usahain datang sama pacar orang hehehe” tandasku dengan nada bercanda juga dengan penuh tanda tanya di otak

“Ya udah mas aku duluan ya, hujannya tambah deres ini. Dadaaaaa, Assalamualaikum” dia pamit sambil memasang helm di kepalanya

“Iya waalaikumsalam, hati-hati ya” ucapku sambil mengantarkan dia keluar pagar rumah ku. Kemudian dia menaiki motor sambil melambaikan tangan kearah ku, dan kubalas dengan lambaian tangan ku juga. Lalu aku kembali masuk ke dalam rumah untuk mengutak-atik ponsel baruku. Sambil berfikir “KOK BISA DIA NIKAH SAMA DIA YA?” mungkin itu yang namanya jodoh.

*3 tahun sebelumnya*
Kopi malam itu menemani ku untuk online sebuah sosial media facebook. Aku memang suka bermain facebook untuk mencari kenalan baru di dunia maya siapa tau bisa berlanjut ke dunia nyata. Setelah online hampir 2 jam tiba-tiba ada sebuah message di facebook dari Dinda yang mengatakan “hey” dan aku jawab “hey juga”, disitulah awal perkenalan kita dengan obrolan yang berlanjut dalam bahasan yang tidak penting.

3 bulan berkenalan akhirnya kita mencoba untuk ketemuan. Ketika melihat Dinda untuk pertama kali aku sangat kagum karena Dinda memiliki tubuh yang tinggi semampai wajah yang cantik dan kalem ditambah dengan parfum yang khas sehingga menarik perhatian siapapun yang melihatnya. Awal pertemuan kita di sebuah cafe yang jaraknya tidak jauh dari rumah kita berdua. Untuk sebuah awal pertemuan dia sangat terbuka dalam menceritakan kisah asmara dengan pacar pertamanya yang telah berlangsung selama 5 tahun (kalo motor udah ganti plat nomer tuh), dan sekarang sudah kandas di tengah jalan.

Selama 7 bulan setelah ketemuan itu kita jadi sering jalan bareng, ngobrol bareng, bercanda bareng, pokoknya bisa seru-seruan bareng dengan status kita yang sama-sama jomblo waktu itu. Sampai pada akhirnya di bulan ke-8 terhitung setelah ketemuan awal kita di cafe, dia telah memiliki seorang kekasih bernama Johan, lalu dia menghilang begitu saja tanpa tau dimana keberadaannya.

*Bulan ke-7 setelah hilangnya kontak dengan Dinda*
 *tingtung* bunyi notifikasi BBM pada ponsel BlackBerry ku namun aku biarkan sampai kira-kira 45 menit karena BB nya sepi notifikasi jadi aku sampai lupa nada notifikasi BBM di BB ku dan aku kira itu tadi notifikasi pada BB adik ku.

*buka aplikasi BBM* ternyata dari Dinda dengan omongan yang langsung to the point “Mas aku mau curhat

Nanti malem aja ya lewat telpon jangan sekarang” jawabku dengan sedikit malas dari aplikasi BBM yang telah usang karena jarang pemakaian.

Waktu menunjukan pukul 00.34 ponsel ku berbunyi dan itu adalah telpon dari Dinda, setelah aku angkat telponnya lalu dia bercerita panjang lebar mengenai pacarnya si Johan yang ternyata dia memiliki sifat kurang baik, tugas ku hanyalah mendengarkan dan memberi saran tidak lebih. Lalu Dinda memilih untuk mengakhiri hubungannya dengan Johan. Mulai saat itu kita bisa bertemu dan jalan-jalan lagi seperti saat kita jomblo dulu, ya walaupun cuman 2 bulan karena bulan ke-20 terhitung dari awal perkenalan kita, si Dinda telah balikan lagi dengan pacarnya yang dulu bernama Johan dan dia menghilang dari ku lagi.

*Bulan ke-25 terhitung dari awal perkenalan kita*
*ndreet ndreett ndreeet* notifikasi BBM dalam vibration mode. Kali ini aku langsung read BBM dari Dinda dengan omongan yang masih sama kayak waktu dulu “Mas aku mau curhat

Ketemuan aja ya di cafe yang dulu biar enak ngomongnya” jawab ku di BBM dengan nada agak sinis, semoga aja dia tau ekspresi ku pas di BBM.

Waktu menunjukkan pukul 18.53 aku sampai di cafe tempat biasa dan 10 menit kemudian dia datang di cafe itu dengan wajah yang sendu. Dengan obrolan pembuka kira-kira 15 menit akhirnya dia mulai bahas di inti permasalahan mengenai pria bernama Johan, ternyata cerita yang aku dapat dari sudut pandang Dinda, si Johan ini memang benar-benar keterlaluan, ya walaupun aku gak mengetahui cerita yang benar seperti apa. Tapi yang pasti disitu Dinda sangat kecewa dengan tingkah Johan mulai dari pengkhiatan, perselingkuhan, pendustaan, sampai rasa kecewa yang dialami bukan hanya pada Dinda namun sampai pada keluarga Dinda.

“Saran mu gimana mas?” Tanya Dinda pada ku dengan penuh harap

“Kalo aku dengar dari cerita mu, mending putus aja udah. Ini udah kedua kalinya lho” jawabku sambil meyakinkan Dinda kalo Johan itu gak cocok sama dia

“Iya mas aku putus kok, aku gak bakal mikirin dia lagi, gak bakal ngurusin dia lagi, pokoknya hidupku lepas dari dia. Udah!!!.” Jawabnya dengan yakin dan tegas tanpa pikir panjang
 Mendengar pernyataan itu dari mulut Dinda aku jadi lega *sambil nyeruput coklat panas di meja cafe*.

Jam sudah menunjukkan pukul 22.19 saatnya kita bergegas untuk pulang ke rumah masing-masing. Entah kenapa setelah pertemuan itu pun kita hilang kontak lagi sampai waktu yang cukup lama, padahal setahu ku dia tidak jadian sama siapa-siapa.

*Bulan ke-36 atau tepat 3 tahun terhitung dari awal pertemuan kita*
Sore itu cuaca sedang hujan cukup deras, aku hanya berdiam diri di kamar dan bermain dengan ponsel baru ku. Tiba-tiba Dinda datang dan mengetuk rumah ku membawa kabar gembira bahwa dia akan menikah dengan pria pilihannya itu.


By Yanuar Kurniawan